Tampilkan postingan dengan label Berita Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Kesehatan. Tampilkan semua postingan

31 Oktober 2015

Benarkah I-Doser Digital Narkotika Sebabkan Kecanduan??

Benarkah I-Doser Digital Narkotika Sebabkan Kecanduan Dr. Taruna Ikrar, M.D., PhD adalah Adjunct Professor, dan Pengajar di Fakultas Kedokteran, University of California, Amerika Serikat


Laporan Dr. Taruna Ikrar, M.D., PhD*)

Dewasa ini Digital Narkotik baru saja membuat kehebohan, karena di beritakan bahwa I-Doser dapat meimbulkan Halusinasi, Ilusi, hingga ketergantungan, layaknya Narkotik. Kontroversi ini sebetulnya bukan hanya terjadi di Indonesia bahkan diberbagai Negara maju didunia, semisal Amerika Serikat.
Pemerintah Amerika Serikat, telah melarang penggunaan iPod dan ponsel pintar ke aplikasi dan situs I-Doser disemua sekolah dinegeri paman sam tersebut. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi ini masih bersifat pro dan kontra, karena masih ada bukti ilmiah yang mendukung klaim efek penggunaannya, berdasarkan gelombang suara binaural.

A. Penggunaan Gelombang Suara Binaural
Secara prinsip penggunaan I-Doser merupakan sebuah aplikasi suara yang memperdegarkan audio proprietary. Penggunaan I-Doser bertujuan untuk mensimulasikan keadaan mental tertentu melalui penggunaan gelombang suara binaural beats. Suara binaural merupakan dua nada yang mengalun dalam frekuensi nada di bawah 1,00 Hz. Ditemukan pada tahun 1839 oleh Heninrich Wilhelm Dove, dia menggunakan untuk relaksasi, meditasi dan kreativitas.
Binaural beats, atau nada binaural, adalah artefak pengolahan pendengaran, atau suara, yang disebabkan oleh rangsangan fisik tertentu. Efek pada gelombang otak tergantung pada perbedaan dalam frekuensi setiap nada. Misalnya, jika 300 Hz dimainkan di satu telinga dan 310 yang lain, maka binaural beat akan memiliki frekuensi 10 Hz.
Penelitian neurosains dilaporkan beberapa efek dari I-Doser menunjukkan bahwa dapat mempengaruhi aspek kinerja mental dan suasana hati, bahkan bisa berefek sebagai suplemen penurun rasa sakit atau bahkan mempengaruhi persepsi. Otak menghasilkan fenomena yang mengakibatkan denyutan-frekuensi rendah dalam amplitudo dan lokalisasi suara suara yang dirasakan ketika dua nada pada frekuensi yang sedikit berbeda disajikan secara terpisah. Perbedaan Nada akan dirasakan, seolah-olah dua nada dicampur secara alami, dalam otak. Perbedaan antara dua frekuensi yang kurang atau sama dengan 30 Hz akan memberikan efek pada orang yang mendengarkan suara tersebut.
Jika nada murni yang berbeda disajikan untuk setiap telinga, akan ada fase perbedaan waktu yang dirasakan berdarkan perbedaan frekuensi antara kedua sinyal yang diterima antara kedua telinga. Jika perbedaan frekuensi antara sinyal yang didengar oleh telinga lebih rendah dari beberapa hertz, sehingga sistem pendengaran dapat mengikuti perubahan perbedaan tersebut dalam waktu interaural. Sehingga pendengaran akan merasakan perbedaan frekwensi tersebut dan memberikan efek pada kesadaran si pendengar.
 Sensasi binaural beats diyakini berasal di inti "olivary superior", bagian dari batang otak. Mereka tampaknya terkait dengan kemampuan otak untuk menemukan sumber suara dalam tiga dimensi dan untuk melacak bergerak suara, yang juga melibatkan colliculus inferior (IC) neuron. Selanjutnya mengaktifkan sensorimotor pada daerah lain diotak, yaitu daerah: cingulate, opercular bilateral, ventral korteks prefrontal, subcortically, insula anterior, putamen, dan thalamus.
Namun, tidak semua peneliti neurosains percaya akan efek diatas, bahkan peneliti dari Oregon Health dan Science University mersa skeptis atau tidak percaya, dan menganggap I-doser nya berupa suara ilusi semata.

B. Fungsi Otak dan Binaural Beats
Binaural beats dapat mempengaruhi fungsi otak dengan cara rangsangan atau stimulasi reseptor pendengaran. Konsepnya adalah bahwa jika salah satu bagian pendengaran menerima stimulus dengan frekuensi di kisaran gelombang otak tertentu, selanjutnya frekuensi gelombang otak dominan, sehingga dikatakan cenderung bergerak ke arah frekuensi stimulus .
Selain itu, gelombang suara binaural berhubungan dengan persepsi dan stereo spasial pendengaran dan sesuai dengan frekuensi respon, yang akan mengaktivasi berbagai situs di otak berikut. Telah diketahui bahwa pendengaran manusia terbatas pada rentang frekuensi dari 20 Hz sampai 20.000 Hz, tetapi frekuensi gelombang otak manusia berada di bawah sekitar 40 Hz. Sebagai contoh, jika sebuah gelombang sinus 315 Hz didengar oleh telinga kanan dan 325 Hz ke telinga kiri, otak akan menerima perbedaan frekuensi sekitar 10 Hz, (Gelombang alpha).
Selanjutnya gelombang alpha dikaitkan dengan relaksasi, ini memiliki efek relaksasi, atau jika dalam rentang beta, lebih kewaspadaan. Percobaan dengan rangsangan suara binaural menggunakan frekuensi dalam kisaran beta pada beberapa peserta dan berbagai delta / theta pada peserta lain yang ditemukan kinerja kewaspadaan yang lebih baik dan suasana hati pada mereka tentang keadaan siaga terjaga stimulasi beta-range.
Sehingga penggunaan binaural telah digunakan cukup luas dalam upaya untuk mendorong berbagai atau merangsang munculnya efek relaksasi, fokus, perhatian, dan kondisi kesadaran. Bahkan penelitian telah membuktikan bahwa dengan latihan yang sering dalam upaya membedakan frekuensi suara, dapat memberikan efek terhadap plastisitas sel-sel saraf.

C. Perbedaan I-Doser vs. Narkotika
I-Doser berbeda dengan Narkotika Kimiawi. Dimana Narkotika kimiawi adalah setiap senyawa psikoaktif dengan sifat yang menginduksi sistem saraf pusat. Misalnya: morfin, heroin dan turunannya, seperti xanax. Dari sudut pandang farmakologi, narkotika digunakan hanya untuk menghilangkan rasa sakit yang parah. Ketika digunakan dengan hati-hati dan di bawah perawatan langsung dokter, obat ini dapat efektif dalam mengurangi rasa sakit. Obat-obat tersebut bekerja pada sistem saraf pusat di Otak, yang secara spesifik menghambat rasa sakit, namun dilain sisi memberikan efek samping euphoria, dan delusi, bahkan berbagai efek samping yang sangat membahayakan.
Kecanduan narkoba dapat menyebabkan akibat yang serius, dengan konsekuensi jangka panjang, yang berhubungan dengan kesehatan fisik, mental, pekerjaan, dan hukum. Dengan akibat yang berbahaya tersebut, penderita membutuhkan bantuan dari dokter, keluarga, teman, pendukung atau bahkan program pengobatan terorganisir untuk mengatasi kecanduan narkoba.
 
Beberapa gejala berikut, meliputi: Kegagalan penderita untuk berhenti menggunakan narkotika akibat ketergantungan, gangguan persepsi visual, pendengaran dan rasa, Memori yang buruk (penurunan daya ingat), peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, mata merah, koordinasi penurunan, kesulitan berkonsentrasi, peningkatan nafsu makan, perlambatan reaksi, berpikir paranoid, delusi dan euphoria. Perasaan berlebihan sebahagiaan besar atau baik makhluk (euforia), koordinasi penurunan, mengantuk dan kehilangan kesadaran. Bahkan pada dosis tinggi, mereka dapat menyebabkan kejang, koma dan kematian.
Perawatan kecanduan narkoba dilakukan rawat inap terorganisir atau program pengobatan rawat jalan, konseling, dan kelompok masyarakat. Khususnya untuk membantu menolak menggunakan obat adiktif setelah fase rehabilitasi. Hal ini sangat tergantung pada tingkat kecanduan, bahkan mungkin diperlukan langkah-langkah untuk medis dengan menggunakan obat anti narkoba (detoksifikasi).
Demikian pula perlu pentahapan dalam mengobati penderita ketergantungan narkotika, sebagai berikut: (Konseling) Terapi perilaku dapat membantu penderita mengembangkan cara-cara untuk mengatasi ketagihannya. Detoksifikasi adalah untuk berhenti keracunan obat adiktif secepat dan seaman mungkin. Detoksifikasi , dapat diterapkan secara bertahap mengurangi dosis obat atau mengganti sementara zat lain, seperti metadon, yang memiliki efek samping yang kurang parah.
Selanjutnya, Berbeda dengan I-Doser, tidak memiliki spesifik reseptor didalam otak, yang bisa menimbulkan ketergantungan seperti pada narkotika kimiawi. Sehingga dengan demikian I-Doser tidak akan bisa menyebabkan ketagihan layaknya narkotika. I-Doser hanya meneybabkan efek relaksasi dan suasana kegembiaraan, dengan efek psikologis mengurangi rasa sakit. I-doser hanya bisa menimbulkan efek ketertarikan seperti jika seseorang menikmati lagu tertentu, sehingga mereka menikmati dan mengalami fans berat pada penyanyi dan lagu-lagu tersebut.
*) Dr. Taruna Ikrar, M.D., PhD adalah Adjunct Professor, dan Pengajar di Fakultas Kedokteran, University of California, Amerika Serikat

12 Maret 2015

Koordinasi Bidang Kesehatan Tahun 2015 Kecamatan Cilongok

Hari ini Puskesmas 1 Cilongok bekerja sama dengan Puskesmas 2 Cilongok mengadakan pertemuan koordinasi bidang kesehatan tahun 2015, pertemuan ini melibatkan seluruh komponen masyarakat yang diwakili oleh kepala desa se Kecamatan Cilongok, Jajaran Muspika, Pengurus PKK Kecamatan, UPK , Ketua FMM Kecamatan Cilongok serta instansi terkait.


Pertemuan ini dimaksudkan untuk menurunkan AKI, AKB serta peran serta aktif masyarakat dalam bidang UKM sehingga kegiatan kesehatan dapat menjadi tanggung jawab bersama tidak hanya berpusat pada petugas kesehatan yang ada.



Pertemuan ini dibuka oleh Susiana Widyaningsih, AMd. Keb selaku ketua panitia, beliau menjelaskan tentang maksud dari diadakannya pertemuan tersebut sebagai tindak lanjut dari pertemuan GSIB yang diadakan di Semarang pada bulan kemarin bersama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam Penyampaian Bidang Kesehatan berhubungan dengan AKI dan AKB yang terjadi dalam 1 tahun dan tindak lanjut yang akan dilaksanakan agar proses GSIB dapat dilakukan bersama-sama dengan seluruh elemen masyarakat.



Alex Teguh Wibawa Manurung, S.Sos selaku Camat Cilongok juga memberikan sambutan tentang permasalahan yang dihadapi dalam bidang kesehatan di Kecamatan Cilongok. Beliau sangat setuju dengan program yang dicanangkan Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas yang berusaha keras dengan berbagai cara agar AKI AKB dapat menurun secara signifikan. lebih lanjut beliau siap sebagai garda terdepan dalam mewujudkan pelayanan kesehatan dalam hal ini AKI AKB agar dapat diturunkan seminimal mungkin.


Pemaparan dilanjutkan oleh dr. Novita Sabjan selaku Kepala Puskesmas 1 Cilongok, beliau memaparkan tentang pelayanan kesehatan yang ada di Puskesmas 1 Cilongok. Dari data yang ada menunjukan Data AKI di Kabupaten Banyumas tahun 2014 sebesar 33 orang, sedangkan AKB sebesar 256 orang. Untuk Puskesmas 1 Cilongok menyumbang AKB sejumlah 2 orang, dan AKB sejumlah 2. Hal ini tentu sangat memprihatinkan kejadian tersebut ada di Kecamatan Cilongok. Oleh karena itu perlu kewaspadaan dan tingkat pengetahuan yang cukup bagi masyarakat agar lebih mengetahui tentang tanda-tanda bahaya kehamilan untuk mengurangi AKI dan AKB. Perlu diketahui juga bahwa penyebab kematian langsung yang sering terjadi adalah dikarenakan Eklampsi, sedangkan penyebab kematian tidak langsung berasal dari penyakit jantung yang diderita oleh ibu hamil.


Kepala Puskesmas 2 Cilongok, Ahmad Susanto, SKM juga memberikan pemaparan tentang pelayanan kesehatan di wilayahnya, Usaha yang diperlukan untuk menurunkan AKI AKB serta memberikan apresiasi kepada masyarakat yang ikut bekerja sama dalam menurunkan AKI AKB di wilayah Puskesmas 2 Cilongok. Diakhir pemaparan dilakukan pembubuhan tanda tangan tentang komitmen bersama peduli kesehatan ibu dan anak oleh masing-masing peserta sebagai bentuk dukungan terhadap kesehatan ibu dan anak yang berkesinambungan.




Dalam kegiatan ini juga dibacakan draft Maklumat Pelayanan (MP) dari masing-masing Puskesmas yang berisi visi misi, slogan, standar pelayanan, sarana dan prasarana yang dimiliki, alur pelayanan, serta pelayanan informasi, penyampaian keluhan kritik dan saran masyarakat. Kemudian dari draft yang telah dibacakan pihak Puskesmas memberikan kesempatan bagi peserta yang hadir yang merupakan perwakilan dari masyarakat untuk memberikan masukan perihal draft maklumat pelayanan. Setelah semua draft disetujui kemudian dilakukan penandatangan Maklumat Pelayanan oleh Kepala Puskesmas beserta salah satu perwakilan dari tokoh masyarakat di wilayah setempat masing-masing Puskesmas.







24 Mei 2014

Scale Up and Technical Update

Dalam rangka memberikan informasi dan melakukan update tentang informasi klinis yang ada, EMAS Kabupaten Banyumas bekerja sama dengan Dinas Kesehatan melaksanakan kegiatan scale up. Kegiatan ini bertujuan mereview tingkat kesehatan dan update klinis yang dalam hal ini dikhususkan pada kesehatan maternal neonatal.
Penyebab kematian maternal terbesar terdiri dari :
1. Pre Eklampsi
2. Obstructed Labor
3. Perdarahan
4. Sepsis
5. Abortus
Dari kelima besar penyebab kematian tersebut yang merupakan faktor terbanyak adalah Pre Eklampsi, di dunia dari data WHO kematian Ibu meninggal per tahun 300.000 jiwa, jika bisa dikalkulasi lebih rinci maka  tiap 2 menit ada kematian ibu. Di Indonesia PE merupakan penyumbang terbesar kematian ibu sebesar 30%. Hal ini merupakan sebuah PR besar bagi dunia kesehatan yang perlu ditindaklanjuti penanganannya.


Penanganan terhadap PE perlu diperhatikan secara teliti
1. Diagnose PE tidak memerlukan hasil proteinuri yang tinggi (0,3g/24 jam atau 5 gram/24 jam)
Komplikasi (problem) organ pada PE terutama pada ginjal dan liver dapat terjadi tanpa disertai PROTEINURIA sehingga sering menyebabkan terlambat penanganan karena biasanya menunggu hasil proteinuri yang tinggi
2. Diagnose PE didasarkan pada hipertensi menetap selama kehamilan atau post partum yang dikaitkan dengan proteinuri
3. Pembagian PE ringan dan berat tidak membantu penanganan, oleh karena PE adalah PROSES DINAMIK atau PENYAKIT PROGRESIF.
4. Progresifitas PE berbeda pada setiap individu.

Prosedur Penanganan PE
1. Untuk mencegah kejang EKLAMSIA, pemberian MgSO4 diindikasikan jika Tensi ≥ 160/110.
2. Jika didapatkan tanda atau gejala lain PEB, MgSO4 harus diberikan meskipun Tensi <160/110 – 140/90
3. Pasien dengan PE ringan dilakukan induksi setelah kehamilan 34 minggu
4. Pasien dengan PE sedangdilakukan induksi setelah kehamilan 37 minggu

14 Mei 2013

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

PHBS merupakan langkah kongkret untuk meningkatkan kesehatan serta mencegah terjadinnya suatu penyakit karena hali ini bersumber langsung pada perilaku manusianya itu sendiri.
Dalam ilmu kesehatan perilaku merupakan unsur dasar dalam perkembangan suatu penyakit, untuk itu pemahaman PHBS harus digalakan sejak dini agar tercapainya indikator kesehatan bisa lebih ditingkatkan lagi.
PHBS sendiri memiliki Indikator yang memegang peranan cukup penting terhadap perkembangan kesehatan dalam hal ini keluarga. Ini lebih dikenal dengan sebutan PHBS tatanan rumah tangga. Pengertian dasarnya adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga, agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.\
adapun indikatornya adalah :

  1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan : Yang dimaksud tenaga kesehatan disini seperti dokter, bidan dan tenaga paramedis lainnya. Hal ini dikarenakan masih ada beberapa masyarakat yang masih mengandalkan tenaga non medis untuk membantu persalinan, seperti dukun bayi. Selain tidak aman dan penanganannya pun tidak steril, penanganan oleh dukun bayi inipun dikhawatirkan berisiko besar dapat menyebabkan kematian ibu dan bayi.
  2. Memberi bayi ASI Eksklusif : Seorang ibu dapat memberikan buah hatinya ASI Eksklusif yakni pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi mulai usia nol hingga enam bulan.
  3. Menimbang Balita setiap bulan : Penimbangan bayi dan Balita setiap bulan dimaksudkan untuk memantau pertumbuhan Balita tersebut setiap bulan. Penimbangan ini dilaksanakan di Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) mulai usia 1 bulan hingga 5 tahun. Setelah dilakukan penimbangan, catat hasilnya di buku KMS (Kartu Menuju Sehat). Dari sinilah akan diketahui perkembangan dari Balita tersebut.
  4. Menggunakan Air Bersih : Gunakan air bersih dalam kehidupan sehari-hari seperti memasak, mandi, hingga untuk kebutuhan air minum. Air yang tidak bersih banyak mengandung kuman dan bakteri yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit.
  5. Mencuci tangan pakai sabun : Mencuci tangan di air mengalir dan memakai sabun dapat menghilangkan berbagai macam kuman dan kotoran yang menempel di tangan sehingga tangan bersih dan bebas kuman. Cucilah tangan setiap kali sebelum makan dan melakukan aktifitas yang menggunakan tangan, seperti memegang uang dan hewan, setelah buang air besar, sebelum memegang makanan maupun sebelum menyusui bayi.
  6. Gunakan Jamban Sehat : Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya. Ada beberapa syarat untuk jamban sehat, yakni tidak mencemari sumber air minum, tidak berbau, tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus, tidak mencemari tanah sekitarnya, mudah dibersihkan dan aman digunakan, dilengkapi dinding dan atap pelindung, penerangan dan ventilasi udara yang cukup, lantai kedap air, tersedia air, sabun, dan alat pembersih.
  7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu : Lakukan Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) di lingkungan rumah tangga. PJB adalah pemeriksaan tempat perkembangbiakan nyamuk yang ada di dalam rumah, seperti bak mandi, WC, vas bunga, tatakan kulkas, dan di luar rumah seperti talang air, dll yang dilakukan secara teratur setiap minggu. Selain itu, juga lakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3 M (Menguras, Mengubur, Menutup).
  8. Makan buah dan sayur setiap hari : Konsumsi sayur dan buah sangat dianjurkan karena banyak mengandung berbagai macam vitamin, serat dan mineral yang bermanfaat bagi tubuh.
  9. Melakukan aktifitas fisik setiap hari : aktifitas fisik, baik berupa olahraga maupun kegiatan lain yang mengeluarkan tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik, mental, dan mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari.Jenis aktifitas fisik yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari yakni berjalan kaki, berkebun, mencuci pakaian, dan lain-lainnya.
  10. Tidak merokok di dalam rumah : Di dalam satu puntung rokok yang diisap, akan dikeluarkan lebih dari 4.000 bahan kimia berbahaya, diantaranya adalah nikotin, tar, dan karbon monoksida (CO)
PHBS tatanan rumah tangga memang sangat susah untuk dilaksanakan karena sangat bergantung pada perilaku anggota keluarga yang ada serta kesadaran untuk berubah.. Indikator PHBS akan dimulai dari PHBS rumah tangga yang merupakan skala paling kecil dalam komunitas yang ada. Jika PHBS rumah tangga tercapai maka bukan hal yang tidak mungkin PHBS komunitas yg lebih besar akan tercapai bahkan bisa sampai tingkat PHBS suatu negara.

1 November 2012

Principle of Good Care

Pelayanan kesehatan memerlukan unsur penunjang agar setiap tujuan pelayanan kesehatan tersebut tercapai, Unsur penunjang tersebut dikenal dengan nama Prinsip perawatan yang baik (Principle of Good Care).
1. Privasi
  Adanya tirai penutup untuk privasi masing-masing pasien untuk mrningkatkan kenyamanan pasien itu sendiri
2. Pengorganisaan tempat bekerja agar berfungsi
    - SDM berkualitas dan kuantitas
    - alat tersedia dan berfungsi
    - obat lengkap
    - sesuai SOP
3. Pencegahan infeksi
Misal ada perdarahan harus segera ditangani karena bisa menularkan penyakit yg berhubungan dengan hepatitis B, HIV/AIDS serta dibudayakan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
4. Komunikasi
lebih dikenal dengan komunikasi terapeutik, sebagai sarana penghubung antara petugas kesehatan dengan pasien dan keluarganya. 
5. Dokumentasi
sebagai bentuk pelaporan dan pertanggungjawaban kegiatan, dokumentasi berfungsi sebagai alat vital jika sewaktu-waktu dilaksanakan monitoring dan evaluasi kegiatan bersangkutan. serta bisa dijadikan pedoman untuk pembuatan rencana tindak lanjut berikutnya.

21 Oktober 2012

Seberapa Besar Manfaat Pengobatan Alternatif


Pengobatan tradisional tetap diminati masyarakat di Indonesia sekalipun pelayanan kesehatan modern telah berkembang di Indonesia, jumlah masyarakatt yang memanfaatkan pengobatan tradisional tetap tinggi. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2001, 57,7% penduduk Indonesia melakukan pengobatan sendiri, 31,7% menggunakan obat tradisional, dan 9,8 memilih cara pengobatan tradisional. Sedangkan pada tahun 2004 penduduk Indonesia yang melakukan pengobatan sendiri meningkat menjadi 72,44 % dimana 32,87 % menggunakan obat tradisional. Sementara di luar negeri saat ini penggunaan pengobatan alternatif  semakin populer .  Dari data didapatkan bahwa  di Amerika , pasien yang menggunakan pengobatan alternatif lebih banyak dibandingkan dengan yang datang ke dokter umum sedangkan di Eropa penggunaannya bervariasi dari 23 % di Denmark dan 49 % di Prancis . Di Taiwan 90 % pasien mendapat  terapi konvensional dikombinasikan dengan pengobatan tradisional Cina dan di Australia sekitar 48,5 % masyarakatnya menggunakan terapi alternatif .  Dari data diketahui pula  bahwa penggunaan terapi alternatif pada penyakit kanker bervariasi antara 9 % sampai dengan 45 %  dan penggunaan terapi alternatif pada pasien penyakit saraf bervariasi  antara 9 sampai 56 % . Penelitian di Cina menunjukkan bahwa  64 %  penderita kanker stadium lanjut menggunakan terapi alternatif . Penelitian Kessler et all menunjukkan bahwa 9 dari 10 pasien yang menderita ansietas  dan 6 dari 10 penderita depresi berkunjung ke psikiater dan  pengobat alternatif. Dokter yang berkecimpung pada pengobatan alternatif pun meningkat. Di Inggris ada sekitar 40 % dokter mengadakan pelayanan pengobatan alternatif. Dari berbagai data di atas  terlihat adanya kecenderungan yang besar pemanfaatan pengobatan alternatif .

Menurut Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Depkes, jumlah Pengobat tradisional di Indonesia yang tercatat cukup banyak, yaitu 280.000 pengobat tradisional dan 30 keahlian/spesialisasi. Sedang dari di 30 ribu jenis tanaman yang ada di Indonesia   950 jenis diantaranya memiliki fungsi penyembuhan yang sudah selayaknya bisa dikembangkan bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dibandingkan dengan negara lain kita sudah jauh ketinggalan dalam pengembangan obat tradisional ini. Tak usah jauh-jauh kita membandingkan , negara tetangga kita Malaysia telah mempatenkan obat tradsional seperti Pasak Bumi padahal Pasak bumi ini sangat banyak di bumi kalimantan ini.

Kedokteran konvensional tidak dapat mengabaikan pengobatan alternatif ini. Kedokteran konvensional sangat tergantung dari teknologi yang mahal untuk memecahkan masalah kesehatan, meskipun kadang pula hal tersebut tidak efektif).  Dalam antusiasme terhadap teknologi, kembali pada pendekatan holistik dan metode-metode sederhana seperti diet dan metode relaksasi yang dilakukan pada pengobatan alternatif  seringkali pula berjalan dengan efektif . Penelitian juga menunjukkan bahwa pendekatan holistik dan konsultasi dengan pengobat alternatif / komplementer membuat pasien lebih dapat mengontrol penyakitnya. Pada beberapa kalangan yang berpikiran luas , timbul keraguan pula  akan hakekat pelayanan kedokteran yang cenderung hanya bertumpu pada regionalisasi, pemberian resep obat, instrumentasi dan pembedahan tanpa memperhatikan faktor intrinsik , aspek kemanusiaan pasien.

Pengobatan alternatif  merupakan bentuk pelayanan pengobatan yang menggunakan cara, alat, atau bahan yang tidak termasuk dalam standar pengobatan kedokteran modern ( pelayanan kedokteran standar ) dan dipergunakan sebagai alternatif atau pelengkap pengobatan kedokteran modern tersebut. Manfaat dan khasiat serta mekanisme pengobatan alternatif  biasanya masih dalam taraf diperdebatkan.
Charthy , dalam Natural therapies menyebutkan beberapa jenis pengobatan  alternatif , yaitu : akupresur, akupuntur, teknik alexander, kinesiology, aromaterapi, autogenic therapy, chiropractice, terapi warna, homeopati, osteopati, hipnoterapi, iridology, naturopathy, terapi nutrisi, terapi polaritas, psikoterapi , refleksiologi , pemijatan, pengobatan Cina. Sedangkan dalam  ensiklopedia pengobatan alternatif, Jenis pengobatan ini dibagi dalam 3 kelompok besar yaitu :

Terapi Energi yang meliputi : Akupuntur , Akupresur, Shiatsu, Do-in, Shaolin, Qigong,, T’ai chi ch’uan, Yoga, Meditasi, Terapi polaritas, Refleksiologi, Metamorphic technique, Reiki, Metode Bowen, Ayurveda, Terapi tumpangan tangan.
Terapi fisik yang meliputi : Masase, Aromaterapi, Osteopati, Chiropractic, Kinesiology, Rolfing, Hellework,  Feldenkrais method,  Teknik Alexander, Trager work, Zero balancing, Teknik relaksasi, Hidroterapi, Flotation therapy, Metode Bates .
Terapi pikiran dan spiritual yang meliputi : Psikoterapi, Psikoanalitik, Terapi kognitif, Terapi humanistik, Terapi keluarga, Terapi kelompok, Terapi autogenik, Biofeedback, Visualisasi, Hipnoterapi, Dreamwork, Terapi Dance movement , Terapi musik, Terapi suara, Terapi seni, Terapi cahaya, Biorhythms, Terapi warna.
Dalam sistem pelayanan kesehatan di Inggris, jenis  pengobatan alternatif ini dibagi menjadi 3 kelompok besar . Kelompok pertama adalah : Kelompok yang paling terorganisasi dan teratur , seperti : akupuntur, chiropractic, pengobatan dengan herbal, homeopati, osteopati. Pengobatan alternatif yang masuk dalam kelompok ini mempunyai dasar penelitian.  Kelompok kedua adalah : Kelompok pengobatan alternatif  yang membutuhkan penelitian lebih lanjut , namun sudah digunakan  sebagai pelengkap dalam sistem pelayanan  kesehatan , seperti : hipnoterapi dan aromaterapi.  Kelompok ketiga adalah : kelompok pengobatan alternatif yang belum mempunyai data sama sekali , seperti : terapi dengan kristal dan pendulum.

Beberapa pendukung terkemuka dari pengobatan alternatif menolak konsep bahwa efektifitas dari pengobatan alternatif membutuhkan atau dapat dilakukan validasinya dengan penelitian secara random dan controlled – trial.  Dengan pertimbangan bahwa banyak intervensi pengobatan alternatif  tidak  memberikan obat atau melakukan operasi , seperti   pengobatan tradisional Cina , pengobatan Ayurvedic,  terapi tumpangan tangan didasarkan pada pandangan vitalistik dari kesehatan dan penyakit.  Terapi –terapi ini percaya adanya energi vital ( qi, prana, kekuatan spiritual ). Masalah lainnya adalah penelitian double-blind, misalnya pada akupuntur sangat sulit karena metode ‘blinding’ dengan menusukkan jarum tidak memungkinkan.  Sehingga efektifitas pengobatan alternatif dipengaruhi oleh banyak faktor yang tidak dapat dispesifikasi, dihitung, dan dikontrol dengan metode penelitian double-blind. Beberapa penelitian  telah dilakukan pada   akupuntur, tanaman obat, dan chiropractic,  namun kadangkala  kesimpulan tidak dapat ditarik karena  adanya kekurangan pada rancangan penelitian. Kesulitan lain yang dihadapi  peneliti dalam mengevaluasi efektifitas suatu pengobatan alternatif adalah tingginya heterogenitas cara yang digunakan untuk mengobati gejala yang sama.  Penelitian Kalauokalani et all terhadap 7 praktisi akupuntur dalam mengobati nyeri pinggang bawah , memperlihatkan  adanya  variasi yang besar pada jumlah titik yang digunakan ( antara 5 – 14 titik ) dan jumlah jarum yang digunakan ( antara 7 sampai 26 jarum ) dan kesamaan titik yang digunakan hanya ada pada 4 titik ( 14 % ). Tingginya heterogenitas ini menimbulkan tantangan bagi peneliti dalam membuat rancangan penelitian dan cara menginterpretasikannya.
Beyerstein, menyatakan saat seseorang sembuh dari penyakit dengan menggunakan suatu metode alternatif maka tidak dapat dikatakan metode tersebut benar efektif .  Beberapa faktor yang menyebabkan suatu pengobatan yang tidak efektif menjadi seolah efektif adalah :

Penyakit mempunyai perjalanan alami untuk sembuh sendiri.
Penyakit mempunyai siklus remisi – eksaserbasi , seperti pada multiple sclerosis, asma, alergi, dan  migren. Bukan tidak mungkin pasien datang pada saat penyakitnya akan membaik.
Efek plasebo. Para pengobat alternatif seringkali membuat penyakit seolah dapat lebih dihadapi. dan pengobat alternatif biasanya lebih antusias dan karismatik. Jadinya kesembuhan yang dialami lebih kepada faktor psikologis. Sebagai contoh : Pada pasien nyeri kronik seringkali nyerinya berkurang dengan pendekatan psikologis tanpa menyentuh faktor patologis yang mendasarinya.
Adanya somatisasi dan ketakutan akan hilangnya perasaan ‘sehat’ . Banyak pasien dengan somatisasi berobat ke dokter dan telah dilakukan berbagai pemeriksaan tidak ditemukan adanya kelainan. Pasien tersebut akhirnya datang ke pengobat alternatif yang ‘selalu’ menemukan  sesuatu  untuk di obati dan jika terjadi ‘ penyembuhan ‘ maka kepercayaan semakin timbul.
Dari sudut aspek antropologis,  pandangan efektifitas  pengobatan modern dan alternatif- tradisional sebenarnya menggunakan terminologi  yang tidak sama . Pengertian biomedis dari Barat tidak bisa sama dengan pengertian etnomedis tentang kemanjuran dan  terdapat pandangan di kalangan Barat bahwa di luar sistem medis yang didasarkan ilmu biomedis Barat pasti irasional karena didasarkan pada magis dan bukannya observasi empiris. Sehingga dalam menentukan efektifitas pengobatan alternatif – tradisional perlu diadakan suatu pendekatan multidimens.

Seberapa besar manfaat pengobatan alternatif berdasarkan tanggapan dokter maupun pasien penggunanya ?.

Penelitian meta-analisis terhadap tanggapan dokter mengenai pengobatan alternatif menunjukkan bahwa   dari 12 penelitian yang berbeda , dokter memberikan jawaban yang positif terhadap keberadaan pengobatan alternatif, terutama terhadap akupuntur, osteopati, homeopati, dan chiropractic.  Pada 5 penelitian diantaranya ditanyakan mengenai bermanfaat atau tidaknya pengobatan alternatif tersebut.  Tanggapan dokter yang menjawab bahwa pengobatan alternatif bermanfaat berkisar dari 54 % sampai 86 %. Dapat dikatakan di sini bahwa sebagian besar dokter setuju bahwa pengobatan alternatif bermanfaat  pada penyembuhan penyakit.
Penelitian Verhoef  et all, pada pasien tumor otak yang menggunakan pengobatan alternatif menunjukkan dua pertiganya menyatakan bahwa pengobatan tersebut bermanfaat. Secara umum pasien mengatakan bahwa tingkat ‘ energi ‘ meningkat  dan merasa lebih sehat fisik dan mental.  Pada  sepertiga pasien mempunyai harapan yang tinggi bahwa  pengobatan alternatif ini mampu mengecilkan dan menghilangkan tumornya.
Penelitian Ernaldi bahar dkk, terhadap gangguan kesehatan jiwa pada anak dan remaja di Palembang  menunjukkan bahwa orang tua penderita percaya bahwa pengobatan tradisional lebih kompeten dan mampu mengobati kesehatan jiwa anaknya.
Penelitian Kessler et all, pada pasien yang menderita ansietas dan depresi didapatkan data bahwa  sebagian besar pasien menyatakan pengobatan alternatif sama berguna dengan pengobatan konvensional
Dalam suatu diskusi panel National Institut of Health ( NIH ) yang dihadiri oleh 23 ahli di bidang kedokteran perilaku, penanganan nyeri, ilmu jiwa, ilmu saraf dan  psikologi ditemukan berbagai bukti kuat bahwa penggunaan teknik relaksasi dan terapi perilaku dapat mengurangi rasa nyeri dan masalah insomnia akibat berbagai kondisi penyakit. Diskusi Panel NIH  pernah juga memberikan simpulan bahwa akupuntur efektif untuk mengurangi nyeri gigi, mual, muntah, nyeri kepala dan nyeri pinggang bawah .
Bila pengobatan alternatif tidak didukung dengan dasar ilmiah , mengapa banyak orang , termasuk yang berpendidikan tinggi  menggunakan terapi alternatif ini ?.

Dari sudut pandang pasien bukan suatu hal yang penting mengenai dasar ilmiah. Pengguna dari pengobatan alternatif ini biasanya pula sudah mencoba pengobatan konvensional yang tidak menyembuhkan penyakitnya. Hal ini membuat mereka menilai bahwa nilai statistik adalah tidak penting . Seringkali pula para pengguna pengobatan alternatif ini mendengar keberhasilan penyembuhan alternatif dari  orang yang baru dikenal , keluarga, dan  teman yang mungkin sudah mengalami kesembuhan dengan penyakit yang serupa melalui pengobatan alternatif tersebut.
Kedokteran modern menjadi identik dengan unpersonal dan high cost medicine yang hanya terjangkau oleh sekelompok kecil masyarakat dan kedokteran modern tersebut belum mampu secara meyakinkan manangani masalah penyakit degeneratif seperti masalah penuaan , kanker, diabetes, hipertensi. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kepercayaan masyarakat dan minat pencari pertolongan. Apalagi disampingnya terdapat pelayanan kesehatan alternatif yang menjanjikan.
Pengobatan alternatif tradisional masih digunakan oleh sebagian besar masyarakat bukan hanya karena kekurangan fasilitas pelayanan kesehatan formal yang terjangkau oleh masyarakat  , tetapi lebih disebabkan oleh faktor-faktor sosial budaya dari masyarakat tersebut. Ia memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakat yang dilayani
Adanya beberapa stereotypes di masyarakat, seperti : – pengobatan alternatif – tradisional bersifat holistik dan pengobatan modern hanya melihat penyakitnya saja dan adanya dikotomi penyakit ke dalam dua jenis , yaitu penyakit  yang dapat disembuhkan oleh dokter dan penyakit yang hanya dapat disembuhkan oleh pengobat tradisional.
Adanya    beberapa  manfaat umum dari pengobatan alternatif – tradisional baik secara psikologis dan sosial yang tidak terpengaruh dengan keberadaan pengobatan modern , yaitu : mengurangi stress dan kecemasan akibat ketidakpastian penyakit, biaya yang rendah dan menyenangkan, penguatan dan keterlibatan langsung pasien dalam penanganan penyakitnya, fungsi kontrol bila ada penyimpangan, mengurangi trauma akibat perubahan kultural  dan  mempromosikan identitas kebudayaan.
Peranan praktisi kedokteran dalam menyikapi keberadaan pengobatan alternatif harus lebih sensitif terutama terhadap pasien pengguna pengobatan alternatif ini   terlebih pada pasien dengan penyakit yang menahun dan sulit disembuhkan seperti : kanker, nyeri menahun , dan penyakit saraf degeneratif.  Praktisi kedokteran sebaiknya pula mengetahui penggunaan terapi alternatif pada pasiennya, mengingat kemungkinan adanya reaksi interaksi  antar obat.

Berbeda dengan ilmu kedokteran yang scientific & technological dengan pendekatan analitik, pengobatan alternatif – tradisional ( berkembang dari tradisi masyarakat tertentu ) lebih bersifat pre scientific & magico –mystical dengan pendekatan holistik. Pendekatan holistik dalam pengobatan tradisional yang memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat dapat diterapkan dalam ilmu kedokteran tanpa harus kehilangan identitas dan sifat keilmuannya. Pengobatan tradisional sudah merupakan bagian integral dari lingkungan sosial budaya dan ada nilai-nilainya yang patut dipertahankan dan ditingkatkan yang dapat memberikan sumbangan positif bagi upaya kesehatan. Oleh karena itu sebetulnya pengobatan tradisional dan pengobatan konvensional dapat berjalan berdampingan dan saling mengisi untuk memberikan manfaat yang optimal bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat banyak.
Sumber : www.gizikia.depkes.go.id

P E N G U M U M A N NOMOR : 810/         /2020 Dalam rangka memenuhi kebutuhan SDM, Puskesmas Cilongok I Dinas Kesehatan Kabupaten B...