31 Oktober 2015

Benarkah I-Doser Digital Narkotika Sebabkan Kecanduan??

Benarkah I-Doser Digital Narkotika Sebabkan Kecanduan Dr. Taruna Ikrar, M.D., PhD adalah Adjunct Professor, dan Pengajar di Fakultas Kedokteran, University of California, Amerika Serikat


Laporan Dr. Taruna Ikrar, M.D., PhD*)

Dewasa ini Digital Narkotik baru saja membuat kehebohan, karena di beritakan bahwa I-Doser dapat meimbulkan Halusinasi, Ilusi, hingga ketergantungan, layaknya Narkotik. Kontroversi ini sebetulnya bukan hanya terjadi di Indonesia bahkan diberbagai Negara maju didunia, semisal Amerika Serikat.
Pemerintah Amerika Serikat, telah melarang penggunaan iPod dan ponsel pintar ke aplikasi dan situs I-Doser disemua sekolah dinegeri paman sam tersebut. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi ini masih bersifat pro dan kontra, karena masih ada bukti ilmiah yang mendukung klaim efek penggunaannya, berdasarkan gelombang suara binaural.

A. Penggunaan Gelombang Suara Binaural
Secara prinsip penggunaan I-Doser merupakan sebuah aplikasi suara yang memperdegarkan audio proprietary. Penggunaan I-Doser bertujuan untuk mensimulasikan keadaan mental tertentu melalui penggunaan gelombang suara binaural beats. Suara binaural merupakan dua nada yang mengalun dalam frekuensi nada di bawah 1,00 Hz. Ditemukan pada tahun 1839 oleh Heninrich Wilhelm Dove, dia menggunakan untuk relaksasi, meditasi dan kreativitas.
Binaural beats, atau nada binaural, adalah artefak pengolahan pendengaran, atau suara, yang disebabkan oleh rangsangan fisik tertentu. Efek pada gelombang otak tergantung pada perbedaan dalam frekuensi setiap nada. Misalnya, jika 300 Hz dimainkan di satu telinga dan 310 yang lain, maka binaural beat akan memiliki frekuensi 10 Hz.
Penelitian neurosains dilaporkan beberapa efek dari I-Doser menunjukkan bahwa dapat mempengaruhi aspek kinerja mental dan suasana hati, bahkan bisa berefek sebagai suplemen penurun rasa sakit atau bahkan mempengaruhi persepsi. Otak menghasilkan fenomena yang mengakibatkan denyutan-frekuensi rendah dalam amplitudo dan lokalisasi suara suara yang dirasakan ketika dua nada pada frekuensi yang sedikit berbeda disajikan secara terpisah. Perbedaan Nada akan dirasakan, seolah-olah dua nada dicampur secara alami, dalam otak. Perbedaan antara dua frekuensi yang kurang atau sama dengan 30 Hz akan memberikan efek pada orang yang mendengarkan suara tersebut.
Jika nada murni yang berbeda disajikan untuk setiap telinga, akan ada fase perbedaan waktu yang dirasakan berdarkan perbedaan frekuensi antara kedua sinyal yang diterima antara kedua telinga. Jika perbedaan frekuensi antara sinyal yang didengar oleh telinga lebih rendah dari beberapa hertz, sehingga sistem pendengaran dapat mengikuti perubahan perbedaan tersebut dalam waktu interaural. Sehingga pendengaran akan merasakan perbedaan frekwensi tersebut dan memberikan efek pada kesadaran si pendengar.
 Sensasi binaural beats diyakini berasal di inti "olivary superior", bagian dari batang otak. Mereka tampaknya terkait dengan kemampuan otak untuk menemukan sumber suara dalam tiga dimensi dan untuk melacak bergerak suara, yang juga melibatkan colliculus inferior (IC) neuron. Selanjutnya mengaktifkan sensorimotor pada daerah lain diotak, yaitu daerah: cingulate, opercular bilateral, ventral korteks prefrontal, subcortically, insula anterior, putamen, dan thalamus.
Namun, tidak semua peneliti neurosains percaya akan efek diatas, bahkan peneliti dari Oregon Health dan Science University mersa skeptis atau tidak percaya, dan menganggap I-doser nya berupa suara ilusi semata.

B. Fungsi Otak dan Binaural Beats
Binaural beats dapat mempengaruhi fungsi otak dengan cara rangsangan atau stimulasi reseptor pendengaran. Konsepnya adalah bahwa jika salah satu bagian pendengaran menerima stimulus dengan frekuensi di kisaran gelombang otak tertentu, selanjutnya frekuensi gelombang otak dominan, sehingga dikatakan cenderung bergerak ke arah frekuensi stimulus .
Selain itu, gelombang suara binaural berhubungan dengan persepsi dan stereo spasial pendengaran dan sesuai dengan frekuensi respon, yang akan mengaktivasi berbagai situs di otak berikut. Telah diketahui bahwa pendengaran manusia terbatas pada rentang frekuensi dari 20 Hz sampai 20.000 Hz, tetapi frekuensi gelombang otak manusia berada di bawah sekitar 40 Hz. Sebagai contoh, jika sebuah gelombang sinus 315 Hz didengar oleh telinga kanan dan 325 Hz ke telinga kiri, otak akan menerima perbedaan frekuensi sekitar 10 Hz, (Gelombang alpha).
Selanjutnya gelombang alpha dikaitkan dengan relaksasi, ini memiliki efek relaksasi, atau jika dalam rentang beta, lebih kewaspadaan. Percobaan dengan rangsangan suara binaural menggunakan frekuensi dalam kisaran beta pada beberapa peserta dan berbagai delta / theta pada peserta lain yang ditemukan kinerja kewaspadaan yang lebih baik dan suasana hati pada mereka tentang keadaan siaga terjaga stimulasi beta-range.
Sehingga penggunaan binaural telah digunakan cukup luas dalam upaya untuk mendorong berbagai atau merangsang munculnya efek relaksasi, fokus, perhatian, dan kondisi kesadaran. Bahkan penelitian telah membuktikan bahwa dengan latihan yang sering dalam upaya membedakan frekuensi suara, dapat memberikan efek terhadap plastisitas sel-sel saraf.

C. Perbedaan I-Doser vs. Narkotika
I-Doser berbeda dengan Narkotika Kimiawi. Dimana Narkotika kimiawi adalah setiap senyawa psikoaktif dengan sifat yang menginduksi sistem saraf pusat. Misalnya: morfin, heroin dan turunannya, seperti xanax. Dari sudut pandang farmakologi, narkotika digunakan hanya untuk menghilangkan rasa sakit yang parah. Ketika digunakan dengan hati-hati dan di bawah perawatan langsung dokter, obat ini dapat efektif dalam mengurangi rasa sakit. Obat-obat tersebut bekerja pada sistem saraf pusat di Otak, yang secara spesifik menghambat rasa sakit, namun dilain sisi memberikan efek samping euphoria, dan delusi, bahkan berbagai efek samping yang sangat membahayakan.
Kecanduan narkoba dapat menyebabkan akibat yang serius, dengan konsekuensi jangka panjang, yang berhubungan dengan kesehatan fisik, mental, pekerjaan, dan hukum. Dengan akibat yang berbahaya tersebut, penderita membutuhkan bantuan dari dokter, keluarga, teman, pendukung atau bahkan program pengobatan terorganisir untuk mengatasi kecanduan narkoba.
 
Beberapa gejala berikut, meliputi: Kegagalan penderita untuk berhenti menggunakan narkotika akibat ketergantungan, gangguan persepsi visual, pendengaran dan rasa, Memori yang buruk (penurunan daya ingat), peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, mata merah, koordinasi penurunan, kesulitan berkonsentrasi, peningkatan nafsu makan, perlambatan reaksi, berpikir paranoid, delusi dan euphoria. Perasaan berlebihan sebahagiaan besar atau baik makhluk (euforia), koordinasi penurunan, mengantuk dan kehilangan kesadaran. Bahkan pada dosis tinggi, mereka dapat menyebabkan kejang, koma dan kematian.
Perawatan kecanduan narkoba dilakukan rawat inap terorganisir atau program pengobatan rawat jalan, konseling, dan kelompok masyarakat. Khususnya untuk membantu menolak menggunakan obat adiktif setelah fase rehabilitasi. Hal ini sangat tergantung pada tingkat kecanduan, bahkan mungkin diperlukan langkah-langkah untuk medis dengan menggunakan obat anti narkoba (detoksifikasi).
Demikian pula perlu pentahapan dalam mengobati penderita ketergantungan narkotika, sebagai berikut: (Konseling) Terapi perilaku dapat membantu penderita mengembangkan cara-cara untuk mengatasi ketagihannya. Detoksifikasi adalah untuk berhenti keracunan obat adiktif secepat dan seaman mungkin. Detoksifikasi , dapat diterapkan secara bertahap mengurangi dosis obat atau mengganti sementara zat lain, seperti metadon, yang memiliki efek samping yang kurang parah.
Selanjutnya, Berbeda dengan I-Doser, tidak memiliki spesifik reseptor didalam otak, yang bisa menimbulkan ketergantungan seperti pada narkotika kimiawi. Sehingga dengan demikian I-Doser tidak akan bisa menyebabkan ketagihan layaknya narkotika. I-Doser hanya meneybabkan efek relaksasi dan suasana kegembiaraan, dengan efek psikologis mengurangi rasa sakit. I-doser hanya bisa menimbulkan efek ketertarikan seperti jika seseorang menikmati lagu tertentu, sehingga mereka menikmati dan mengalami fans berat pada penyanyi dan lagu-lagu tersebut.
*) Dr. Taruna Ikrar, M.D., PhD adalah Adjunct Professor, dan Pengajar di Fakultas Kedokteran, University of California, Amerika Serikat

Tidak ada komentar: